Selasa, 19 April 2011

Sistem Pembangkitan 16 2/3 Hz dan Perbandingan Kereta-Kereta Listrik di Dunia


Pagi ini saya kembali mengikuti kuliah Sistem Transportasi Elektrik yang disampaikan oleh Prof. Yanuarsyah Haroen. Pukul 07.30 tepat, saya tiba di Lab konversi dan ternyata Pak Prof sudah tiba terlebih dahulu beserta 2 mahasiswa peserta kuliah tersebut. Dengan penuh semangat Pak Prof memberitahukan gambar Pembangkitan Kereta Listrik yang dikeluarkan oleh Kraftwerk Schkopau, kalau tidak salah ini adalah jenis perusahaan pembangkitan di Jerman.
Awalnya kami kesulitan membaca gambar tersebut, maklumlah ternyata gambarnya juga baru didiskusikan kali ini. Gambar ini tergolong baru karena dibuat sekitar awal tahun 90-an disaat terjadi penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur.
Setelah beberapa lama melihat dan memperhatikan akhirnya disadari bahwa sistem pembangkitan tersebut menghasilkan 900 Mwe untuk menyuplai bukan hanya kereta listrik tetapi juga untuk keperluan publik. Sehingga sistem pembangkitan tersebut terbagi menjadi dua sistem yaitu 50 Hz dan 16 2/3 Hz. Sistem 50 Hz digunakan untuk menyuplai publik sedangkan 16 2/3 Hz digunakan untuk menyuplai kebutuhan kereta listrik.  Adapun untuk yang 50 Hz adalah 3 phase sedangkan 16 2/3 adalah satu phase.
Setelah panjang lebar berdiskusi tentang sistem pembangkitan ini, Pak Prof-pun mengajak kami untuk mengerti tentang kereta-kereta listrik yang ada di dunia. Saya disuruh belajar tentang Shinkansen (kereta yang ingin saya naiki). Lalu TGV Korea dibebankan ke Bang Okto dan TGV Inggris yang bernama Eurostar diserahkan ke Mas Felix.
Berikut hasil yang didapatkan
NoKereta ListrikKecepatan Maks (km/h)Kapasitas Penumpang
1Shinkansen2701255
2TGV Korea300900
3TGV Inggris (Eurostar)300794
Dari hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa teknologi perkeretaapian di negara-negara maju sudah cukup sama. Untuk negara yang membutuhkan kapasitas penumpang yang sangat besar maka kecepatan kereta listrik yang diterapkan kurang cepat dibandingkan negara yang menomorsatukan kecepatan dibandingkan kapasitas penumpangnya.
Sembari berkelakar, Pak Prof menyampaikan bahwa kecepatan 270 dan 300 km/h untuk orang Indonesia tidak ada bedanya. Sama-sama cepat!. Kalau ada mahasiswa yang mampu membuat kereta dengan kecepatan 200 km/h saja di Indonesia, beliau akan angkat topi hehe…
*dari mas Felix:  sekadar menambahkan, tgv eurostar itu bukan hanya di Inggris, tapi juga dari Perancis (25 kV, 50 Hz), Belgia (3kV DC), selat Inggris-Perancis (namanya eurotunnel; 25 kV 50 Hz), dan Inggris (7,5kV DC; lewat London sampai Glasgow di utara Inggris).

1 komentar:

  1. banggaku bisa berkunjung kesini sambil belajar... semoga saya akanterus kesini...
    saya tak menyangka dapat belajar dari blog ini. salam blogger makassar. klu bisa
    berika tutorial yang untuk para newbie.saya baru saja mengembangkan dunia blogging.

    BalasHapus